Polda Riau Dipraperadilankan Dokter Gigi


Dibaca: 309 kali  Editor: -. Wartawan: -
Senin,17 Juli 2017 - 17:13:16 WIB
Polda Riau Dipraperadilankan Dokter Gigi

PEKANBARU-Menjalin kerjasama dengan saudaranya sendiri, seorang dokter gigi bernama Narcelina dilaporkan ke polisi dengan tuduhan penggelapan uang hingga Rp 2,8 miliar. Diapun kemudian ditetapkan sebagai tersangka oleh penyidik Direktorat Reserse Kriminal Umum Polda Riau.

Narcelina tidak terima atas penetapan ini karena merasa tak bersalah dan meragukan hasil penyidikan kepolisian. Diapun mengajukan gugatan praperadilan ke Pengadilan Negeri Pekanbaru dengan harapan statusnya bisa dicabut hakim.

Kuas Hukum Narcelinan, Benno Sulveltra menilai penyelidikan hingga penyidikan yang dilakukan kepolisian tidak menyeluruh. Dia menyebut urusan antara Narcelina dengan saudaranya bernama Ajang masuk ke ranah perdata.

"Ini seharusnya perdata, yang dijadikan pidana oleh penyidik Drektorat Reserse Kriminal Umum Polda Riau," katanya kepada wartawan di Pekanbaru, Senin (17/7/2017) petang.

Benno mengungkapkan, perkara yang dihadapi kliennya ‎berbenturan dengan Surat Edaran Mahkamah Agung (MA), p‎eraturan MA No 1 Tahun 1956 (Perma 1/1956), dalam pasal 1 Perma 1/1956 tersebut.

"Hubungan hukum antara 2 pihak harus diselesaikan secara perdata, dengan demikian pemeriksaan perkara pidana dapat dipertangguhkan untuk menunggu suatu putusan pengadilan untuk menentukan ada atau tidak adanya hak perdata," jelasnya.

Di samping itu, Benno menyebut kliennya tidak tahu tentang kapan dan dimana terjadinya tindak pidana penipuan dan atau penggelapan sebagaimana laporan korban. Pasalnya antara Narcelina dan Ajang masih terikat secara keperdataan yang bersifat kekeluargaan.

Terlabih lagi, dalam kasus ini Narcelina hanya orang yang diajak Ajang untuk bekerjasama, bukan menawarkan diri. Kerjasama ini dalam bidang pertambangan batu bara yang dijalankan secara kekeluargaan.

"Klien saya dilibatkan bekerjasama. Perusahaan dimaksud adalah PT Anugrah Bara Kencana dan PT Anugrah Bara Kasih. Kedua perusahaan sudah mendapat izin pertambangan batu bara (IUP) PT Bumi Permata Indonesia di Muaro Bungo, Jambi dan PT Tambulun Panual Jaya di Kalimantan," Jelasnya.

Terlebih lagi, kepolisian disebut tidak pernah mengkonfirmasi kepada kliennya berapa kerugian pelapor dalam kasus ini. Benno menyatakan kerugian ini ‎tidak bisa dibuktikan.

Terkait gugatan ini, Kabid Humas Polda Riau Kombes Pol Guntur Aryo Tejo SIK mempersilahkan orang yang tersandung perkara untuk melakukan praperadilan. Dia menyebut hal ini sebagai jalan masyarakat mencari keadilan di luar penyidikan kepolisian.

"Silahkan mengajukan gugatan, itu haknya. Nanti semuanya akan jelas dalam sidang," tegas Guntur.

Sementara itu, Ajang menyebut ‎kejadian bermula ketika dirinya meminjamkan uang Rp 2,8 miliar lebih untuk kerjasama batubara di di Kalimantan dan buat perusahaan baru di tahun 2012 silam. Ada kesepakatan Ajang mendapat bagian keuntungan setelah bisnis menghasilkan uang Rp 300 juta.

Uang diberikan secara bertahap, dan setelah beberapa bulan, korban mengaku tidak pernah menerima janji dari Narcelina. Tak lama setelah itu, korban menyebut Narcelinan kembali meminta uang untuk menambah modal.

"Tanpa pikir panjang, lantaran pelaku yang masih ada terkait hubungan keluarga dengan korban, meminta kembali uang tambahan modal sebesar Rp 500 juta. Sampai sekarang tidak pernah kembali," kata Ajang.

"Setiap diminta, pelaku tidak dapat memberikan jawaban dan selalu menolak jika dihubungi. Malahan saat dilakukan penyelidikan terhadap keberadaan perusahaan ini pelaku justru memberikan alasan palsu," tambahnya.

Reporter : Syukur

Redaktur : Rio

Editor : -
Wartawan : -

Akses Faktariau.com Via Mobile http://faktariau.com/mobile
TULIS KOMENTAR
BERITA LAINNYA
KANTOR PUSAT:
Jalan Arifin Ahmad nomor 113 E, Marpoyan Damai, Pekanbaru
Email: redaksifaktariau@gmail.com
DOWNLOAD APP FAKTARIAU.COM