Tak Taat KKB Baru, Sepuluh Buruh PT. ADEI Pinggir di PHK Sepihak

Women face

MANDAU-, Perkebunan PT ADEI Plantation Distrik Kecamatan Pinggir memaksa karyawannya patuhi jam kerja baru yang diterapkan sepihak. Buruh tidak terima karena ada KKB yang telah lama berjalan, Managjemen bersikap arogan langsung pecat 10 buruh/ karyawannya.

Merasa dizolimi buruh mengadu ke Disnaker yang hingga saat ini bergabung dengan buruh dari perusahaan lainnya di emperan Kantor Disnaker Bengkalis, Jalan Pipa Air Bersih Duri.
 
Herwansyah yang bekerja diperusahaan tersebut bagian Sortasi buah Sawit  dan M Sidik  bagian Woorshop yang telah bekerja 15 tahun mengisahkan, pihak managjemen melakukan perubahan jam kerja diluar KKB secara sepihak.
 
"Jam kerja sebelumnya masuk pukul 07.00 -15.00 WIB, namun tanpa perundingan dirubah menjadi, jam kerja masuk pukul 11 - 21 WIB malam," ujar sejumlah karyawan pada wartawan.
 
Perubahan dengan melanggar KKB yang telah lama berjalan awalnya ditolak seluruh buruh Minggu (24/06/2018).
Pihak perusahaan langsung menjatuhkan sanksi pada buruh, khususnya pada pengurus Serikat Buruh yang berjuang menegakkan KKB yang dilindungi UU.
 
" secara beruntun Perusahaan mengeluarkan SP1, SP2 dan PHK secara sepihak, tanpa ada tenggang waktu," tutur Herwansyah.
 
Lanjut Herwansyah, pihak perusahaan langsung melakukan PHK terhadap 10 orang, sehingga yang lainnya mundur.
 
"PHK yang dilakukan sepihak, tidak kami terima dan hingga saat ini kami menunggu ketegasan Disnaker terhadap tindakan semena mena dari PT ADEI.
aturan dalam Kesepakatan Kerja Bersama ( KKB ) telah berjalan sesuai aturan dan telah berjalan cukup lama, kami berjuang sesuai aturan dan murni. kalau pun ada perubahan jam kerja kami siap, tapi mari bersama membahas dalam KKB yang baru" sampai Herwansyah.
 
Bertumpunya Buruh yang teraniaya, semakin memadati Kantor Disnaker Kabupaten Bengkalis yang ada di Simpang Pipa Air Bersih Duri.
Persoalan demi persoalan yang berbeda tanpa ada penyelesaian dari Dinas Ketenaga Kerjaan.
 
Buruh yang berbulan berseteru dengan perusahaan, dan menginap di Kantor Dinas, seakan adanya pembiaran tanpa penyelesaiaan.
Hal ini disampaikan Bobson yang ikut mendampingi Buruh dari 3 persahaan.
 
Puluhan Buruh yang menginap berasal dari Perkebunan PT Murini Wood Indah Industri ( MWII ), Perkebunan PT .Sarana Inti Sawit ( SIS ) dan terakhir dari Perkebunan PT ADEI distrik Kecamatan Pinggir.
 
"ke 3 perusahaan besar ini berada di Wilayah Kabupaten Bengkalis, tergambar betapa lemahnya pengawasan, ketegasan dalam menegakkan aturan dari pihak berwenang. Apa sebenarnya yang terjadi antara Disnaker dengan pengusaha," tanya Bobson, salah seorang Lembaga Bantuan Hukum yang dutunjuk Buruh bermasalah saat ini.
 
Lanjut Bobson, persoalan Buruh di PT ADEI akibat pihak perusahaan mengubah Sistem kerja yang menurut mereka ( pengusaha ) benar, padahal ada ketentuan UU yang mesti dipatuhi di NKRI ini.
 
Buruh diperusahaan ini dipaksa menerima aturan dengan dibawah tekanan diberhentikan.
 
"Pengubahan sistim/jam  kerja, Pemberhentian, Skorsing, secara jelas telah diatur dalam UU, Permenaker, jadi tidak bisa semena mena, kalau itu terjadi dapat digiring ke pidana" tegas aktivis buruh ini.